Siapa sih yang tidak mau bisnis lancar dengan keuntungan yang konsisten? Tapi tahukah kamu, ada satu aspek penting yang bisa jadi indikator utama untuk memastikan bisnismu itu efisien dan menguntungkan: gross profit margin. Kamu mungkin sering dengar istilah ini, tapi seberapa paham kamu akan pengaruhnya terhadap kondisi finansial bisnis?
Sederhananya, gross profit margin (GPM) itu seperti cermin yang menunjukan apakah bisnis sudah berjalan dengan efisien atau masih banyak kebocoran biaya. Nah, yang sering terjadi adalah kita bisa saja salah hitung margin ini dan malah membuat keputusan bisnis yang kurang tepat.
Yuk, mari kita ulas dengan cara yang lebih santai tapi tetap profesional supaya kamu bisa paham betul pentingnya GPM buat usaha!
Apa Itu Gross Profit Margin
Gross profit margin (GPM) itu adalah rasio yang menunjukkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menghasilkan keuntungan dari penjualan setelah mengurangi biaya produksi. Intinya, rasio ini menggambarkan laba kotor yang kamu peroleh setelah biaya langsung dipotong. Jadi, GPM adalah indikator apakah usaha kamu berjalan lancar atau tidak.
GPM sering dipakai oleh bisnis untuk mengukur efektivitas strategi harga dan biaya produksi. Kalau GPM stabil atau bahkan naik, itu tandanya bisnis sehat. Tapi kalau tiba-tiba turun tanpa alasan yang jelas, bisa jadi ada masalah dengan harga produk atau biaya produksi yang nggak terkontrol.
Fungsi Gross Profit Margin untuk Bisnismu
GPM itu bukan sekadar angka di laporan keuangan. Rasio ini bisa memberikan insight penting tentang bagaimana kamu mengelola biaya dan keuntungan. Jadi, yuk lihat manfaat GPM yang tidak hanya membantu kamu mengevaluasi performa, tapi juga mengambil keputusan strategis yang tepat!
1. Mengatur Harga dan Biaya, Supaya Keuntungan Maksimal
Dengan mengetahui gross profit margin, kamu bisa lebih mudah menentukan apakah harga jual produk sudah tepat. Kalau GPM rendah, itu artinya biaya produksi terlalu tinggi atau harga jual terlalu murah. Ini saatnya kamu menyesuaikan harga atau merombak strategi produksi agar lebih efisien. Intinya, GPM bantu kamu menemukan keseimbangan antara harga jual dan biaya produksi supaya tetap untung.
2. Bantu Tarik Investor dengan GPM yang Tinggi
Investor suka angka yang jelas. Mereka ingin melihat apakah bisnis bisa menghasilkan laba yang konsisten dan stabil. Gross profit margin yang tinggi dan stabil bisa menjadi sinyal positif bagi investor bahwa bisnis punya prospek cerah dan bisa berkembang. Kalau kamu lagi mencari investor, jangan lupa tampilkan rasio ini untuk meyakinkan mereka bahwa bisnismu dikelola dengan baik.
3. Membandingkan Kinerja dengan Kompetitor
Persaingan di pasar itu ketat. Makanya, gross profit margin bisa menjadi alat yang ampuh untuk membandingkan bisnis dengan kompetitor. Kalau margin lebih rendah dari pesaing, tandanya ada yang perlu diperbaiki, entah dalam penetapan harga atau pengendalian biaya. Sebaliknya, kalau margin lebih tinggi, itu artinya bisnismu punya keunggulan dan bisa dipertahankan.
4. Menemukan Masalah dalam Operasional Bisnis
Fluktuasi gross profit margin yang tidak stabil bisa jadi tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam bisnis. Misalnya, biaya bahan baku naik, atau ada masalah di proses produksi yang bikin biaya jadi lebih tinggi. Dengan memantau margin ini, kamu bisa lebih cepat menemukan masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan.
5. Mengukur Efisiensi Biaya Produksi
GPM juga bisa bantu kamu lihat seberapa efisien kamu dalam mengelola biaya produksi. Jika margin tinggi, artinya biaya produksi sudah dikelola dengan baik tanpa mengorbankan kualitas produk. Sebaliknya, kalau margin rendah, bisa jadi kamu perlu menurunkan biaya atau menaikkan harga jual agar usaha tetap menguntungkan.
6. Memberikan Gambaran Kesehatan Bisnis kepada Stakeholder
Bukan hanya kamu yang harus memperhatikan gross profit margin, stakeholder seperti pemasok atau investor juga akan mengamatinya. Jika margin sehat dan stabil, mereka akan melihat bisnis punya masa depan yang cerah, dan ini bisa bantu kamu membangun hubungan bisnis yang lebih kuat.
7. Meningkatkan Arus Kas Bisnis
Dengan GPM tinggi, perusahaan punya lebih banyak ruang untuk mengelola arus kas. GPM yang sehat memberi keuntungan yang cukup untuk menutupi biaya operasional dan bahkan membuka peluang untuk ekspansi. Jadi, makin tinggi margin, makin besar peluang untuk memperbesar usaha!
Rumus dan Contoh Perhitungan Gross Profit Margin
Menghitung gross profit margin sebenarnya tidak sulit. Ini rumus yang bisa kamu pakai:
Gross Profit Margin = (Penjualan Bersih – HPP) ÷ Penjualan Bersih
Keterangan:
- Penjualan bersih: total pendapatan setelah dikurangi retur atau potongan.
- HPP (Harga Pokok Penjualan). Biaya langsung yang dikeluarkan untuk memproduksi barang.
Contoh:
Misalnya, sebuah perusahaan catat penjualan bersih Rp 1.000.000.000 dan HPP-nya Rp 300.000.000. Maka:
- Gross Profit = Penjualan Bersih – HPP = Rp 1.000.000.000 – Rp 300.000.000 = Rp 700.000.000
- Gross Profit Margin = Gross Profit ÷ Penjualan Bersih = Rp 700.000.000 ÷ Rp 1.000.000.000 = 70%
Hasil GPM sebesar 70% menunjukkan perusahaan cukup efisien dalam mengelola biaya dan laba. Itu berarti, perusahaan mampu menghasilkan laba kotor yang cukup besar dari penjualannya.
Gross profit margin adalah indikator keuangan yang tidak boleh diabaikan. Dengan memahami dan memonitor indikator ini, kamu bisa lebih mudah mengelola harga jual, mengontrol biaya produksi, dan tentunya meningkatkan keuntungan. Tidak sebatas untuk menjaga kesehatan finansial, GPM juga memastikan kamu membuat keputusan bisnis yang lebih terarah. Perihal pengelolaan bisnis, percayakan pada Folio POS!
Aplikasi kasir digital ini membantu pemilik bisnis memantau stok, menghitung penjualan, serta membuat laporan yang lebih akurat. Yuk, kelola bisnis lebih efisien dengan Folio POS!
Coba gratis semua fiturnya!