Cara Menghitung Persediaan Barang Dagang dengan FIFO, LIFO, dan Average

28 Februari 2026
cara-menghitung-persediaan-barang-dagang

Cara menghitung persediaan barang dapat dilakukan menggunakan beberapa metode perhitungan stok seperti FIFO (First In, First Out), LIFO (Last In, First Out), dan Average (Rata-rata Tertimbang). Rumus umum menghitung persediaan akhir adalah: persediaan awal pembelian - harga pokok penjualan (HPP). Pemilihan metode perhitungan stok akan memengaruhi nilai persediaan akhir, HPP, serta laporan laba rugi bisnis. 

Menghitung persediaan barang dengan tepat jadi salah satu langkah penting untuk menjaga kelancaran operasional usaha. Ada banyak metode yang bisa kamu gunakan, yaitu FIFO, LIFO, dan Average atau Rata-rata Tertimbang. 

Namun, kamu harus tahu dulu kalau setiap metode punya cara hitung yang berbeda. Agar tidak bingung, baca selengkapnya di artikel ini sebelum memilih salah satunya. 

Apa Itu Persediaan Akhir? 

Persediaan akhir adalah total nilai dari produk yang ada untuk dijual pada akhir periode akuntansi, misalnya akhir tahun fiskal. Persediaan akhir bisa merujuk pada bisnis sektor manufaktur, perdagangan, atau layanan, serta mencakup bahan baku, bahan proses, dan barang jadi. 

Sementara itu, persediaan akhir barang dagangan adalah jumlah barang untuk bisnis yang lebih spesifik. Misalnya di sektor ritel atau perdagangan yang masih tersedia untuk dijual pada akhir periode. 

Persediaan akhir sangat penting bagi bisnis, karena akan dipakai sebagai acuan utama untuk menentukan Harga Pokok Penjualan (HPP). Kamu harus tahu, HPP ini juga sangat berpengaruh dalam perhitungan keuntungan bersih. 

Jika terjadi salah hitung pada persediaan akhir, besar kemungkinan laporan neraca dan laba rugi pun ikut salah. Jadi, jangan sampai keliru, ya!

Rumus Menghitung Persediaan Akhir Barang Dagang

Terdapat beberapa cara menghitung persediaan akhir barang dagang. Tapi, rumus ini juga bergantung pada metode yang kamu pakai dalam bisnis. Kalau rumus umumnya: 

Persediaan Akhir: (Persediaan Awal Pembelian) - Harga Pokok Penjualan (HPP)

Keterangan: 

  • Persediaan awal: jumlah barang yang tersisa di gudang pada awal periode hitung. Misalnya, awal bulan atau awal tahun. 
  • Pembelian: semua pembelian barang dagang selama periode hitung, baik yang sudah diterima maupun yang masih dalam perjalanan (in-transit).
  • Harga Pokok Penjualan (HPP): total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memproduksi barang dalam periode tertentu atau harga modal dari produk yang dijual. 

Supaya lebih jelas, kamu bisa perhatikan contoh berikut ini: 

Misalnya, sebuah toko pakaian memiliki nilai persediaan akhir pada tahun 2022 yaitu Rp20.000.000. Maka, secara otomatis, nilai ini akan menjadi persediaan awal di tahun 2023. Selama tahun 2023, toko tersebut melakukan pembelian barang tambahan sebesar Rp15.000.000 dengan HPP sebesar Rp10.000.000. 

Dari contoh tersebut, cara menghitung persediaan akhir di tahun 2023, yaitu: 

Persediaan Akhir: (Rp20.000.000 Rp15.000.000) - Rp10.000.000

= Rp25.000.000


Jadi, nilai persediaan nilai akhir di tahun 2023 pada toko tersebut adalah Rp25.000.000. 

Cara Menghitung Persediaan Akhir dengan Metode FIFO, LIFO, dan Average

Selain rumus umum tadi, ada juga cara menghitung persediaan akhir dengan metode lain. Perhitungannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis kamu, yaitu: 

1. Metode FIFO (First In, First Out)

Dalam metode FIFO, barang yang pertama kali masuk toko atau gudang dianggap sebagai barang yang pertama kali dijual atau keluar. Supaya tidak bingung, begini cara hitung metode FIFO: 

Suatu bisnis memiliki transaksi persediaan buku selama bulan Januari dengan rincian sebagai berikut: 

  • 1 Januari: pembelian 100 buku dengan harga Rp2000 
  • 10 Januari: pembelian 150 buku dengan harga Rp2500 
  • 20 Januari: pembelian 200 buku dengan harga Rp3000 

Pada tanggal 25 Januari, buku tersebut sudah terjual sebanyak 300 buah. Cara menghitung persediaan akhirnya adalah? 

karena stok pertama masuk di tanggal 1 Januari dengan pembelian 100 buku seharga Rp2000, maka perhitungan bisa kamu mulai dari sana. 

= 100 buku x Rp2000 = Rp200.000
 Sisa: 300 - 100 = 200 buku


Selanjutnya, persediaan akan diambil di tanggal berikutnya, yaitu 10 Januari dengan jumlah pembelian sebanyak 150 buku: 

= 150 buku x Rp2500 = Rp375.000
Sisa: 200 - 150 = 50 buku


Lalu, 50 buku ini akan diambil dari tanggal 20 Januari dengan harga Rp3.000. Maka: 

= 50 buku x Rp3000 = Rp150.000.

Dari semua perhitungan tadi, menghitung HPP dengan metode FIFO adalah menjumlahkan semua perhitungan barang terjual: 

= Rp200.000 Rp375.000 Rp150.000 
= Rp725.000


Kemudian, cara menghitung persediaan akhirnya adalah sisa barang dikali dengan total harga yang terakhir dikirim, yaitu pada tanggal 20 Januari: 

Sisa barang di tanggal 20 Januari: 200 buku - 50 buku = 150 buku
Maka: 150 buku x Rp3000 = Rp450.000

2. Metode LIFO (Last In, First Out)

Berbeda dengan FIFO, metode LIFO menganggap bahwa barang yang terakhir dibeli sebagai barang yang pertama kali dijual. Jika masih menggunakan contoh soal yang sama seperti sebelumnya, maka perhitungannya adalah: 

Barang yang terjual 300 buah akan diambil dari stok terakhir (200 buku pada tanggal 20 Januari), dan sisanya dari pembelian sebelumnya (100 buku pada tanggal 10 Januari). 

HPP akan didapatkan dari: 
= 200 buku x Rp3.000 = Rp600.000
= 100 buku x Rp2500 = Rp250.000
Total HPP: Rp600.000 Rp250.000 = Rp850.000

Sisa Persediaan: 

50 buku dari pembelian 10 Januari dan 100 buku dari pembelian tanggal 1 Januari. Maka: 
= 50 buku x Rp2500 = Rp125.000
= 100 buku x Rp2000 = Rp200.000
Maka, nilai sisa persediaan adalah: 

Rp125.000 Rp200.000 = Rp325.000

3. Metode Average

Lalu, metode Average yang menggunakan harga rata-rata dari seluruh pembelian untuk menghitung nilai persediaan dan HPP. 

Masih dengan contoh soal sebelumnya, berikut ini cara menghitung persediaan akhir barang dengan metode Average: 

Total persediaan sebelum penjualan

  • (100 buku x Rp2.000) (150 buku x Rp2500) (200 buku x Rp3.000) = Rp1.175.000
  • Total buku: 100 150 200 = 450 buku
  • Harga rata-rata per buku: Rp1.175.000/450 buku = Rp2.611

Harga Pokok Penjualan (HPP): 

  • 300 buku x Rp2.611 = Rp783.333

Jadi, nilai persedian akhirnya adalah: 

= (Total buku - Total penjualan) x Harga Rata-Rata 
= (450 - 300) x Rp2.611 
= Rp391.650

Kelola Stok Barang Bebas Ribet dengan Folio!

Demikian tadi cara menghitung persediaan akhir barang dengan metode FIFO, LIFO, dan Average. Kamu bisa memilih salah satu metodenya sesuai dengan kebutuhan bisnis. 

Jangan lupa, kamu juga harus memastikan stok terpantau dengan tepat. Artinya, barang yang ada di gudang dan toko tidak ada selisih. Tidak perlu hitung manual, kamu bisa pakai aplikasi kasir Folio. Dengan sistem yang terintegrasi, manajemen stok bisnis jadi lebih mudah, praktis, dan efektif. Jangan sampai stok berantakan, yuk pakai Folio!

Whatsapp Sales Whatsapp Support 1 Whatsapp Support 2 Telephone Office