Pre order adalah sistem penjualan ketika pelanggan memesan produk sebelum barang tersedia. Penjual kemudian menyiapkan produk berdasarkan pesanan yang masuk dan mengirimkannya sesuai estimasi yang telah ditentukan. Sistem ini dapat membantu bisnis menyesuaikan produksi dengan permintaan, tetapi membutuhkan pencatatan pesanan, pembayaran, stok, dan jadwal pengiriman yang rapi.
Pre order adalah sistem penjualan ketika pelanggan melakukan pemesanan terlebih dulu sebelum produk tersedia atau selesai diproduksi. Setelah periode pemesanan berakhir atau pesanan dikonfirmasi, penjual menyiapkan produk dan mengirimkan sesuai waktu yang telah diinformasikan kepada pelanggan.
Menjual produk dengan sistem pre order memungkinkan bisnis menerima pesanan sebelum barang siap dikirim. Cara ini banyak digunakan untuk produk custom, pakaian, makanan, barang impor, hingga produk yang dibuat dalam jumlah terbatas.
Karena barang belum tersedia ketika transaksi dilakukan, pengelolaan pesanan menjadi bagian penting dalam sistem ini. Penjual perlu memastikan data pesanan, pembayaran, jumlah barang, hingga jadwal pemenuhan tercatat baik agar tidak terjadi kesalahan.
Apa Itu Pre Order?
Secara sederhana, pre order adalah metode penjualan dengan sistem pesan lebih dulu. Pelanggan membeli produk yang belum tersedia secara langsung, kemudian menunggu sampai produk selesai dibuat, didatangkan, atau disiapkan oleh penjual.
Dalam praktiknya, pembayaran bisa dilakukan secara penuh, sebagian sebagai uang muka, atau menggunakan skema lain sesuai kebijakan bisnis. Hal yang paling membedakan pre order dengan penjualan biasa adalah produk belum tersedia ketika pelanggan melakukan pemesanan.
Misalnya, sebuah toko pakaian ingin menjual jaket dengan desain baru. Alih-alih langsung memproduksi 500 jaket, pemilik toko membuka pre order selama periode tertentu. Setelah mendapat 120 pesanan, produksi dilakukan berdasarkan jumlah tersebut. Dengan begitu, jumlah produksi dapat disesuaikan dengan permintaan yang sudah masuk.
Pre order juga dapat digunakan untuk produk yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dibuat atau didatangkan. Contohnya pakaian custom, merchandise, furnitur, makanan, produk koleksi, atau barang dari luar negeri.
Dalam perdagangan melalui sistem elektronik, penyelenggaraan aktivitas perdagangan juga memiliki ketentuan berlaku. Kementerian Perdagangan saat ini memiliki
Permendag No 19 Tahun 2026 yang membahas tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang berlaku sejak Juni 2026.
Bagaimana Cara Kerja Sistem Pre Order?
Meski produk belum tersedia, proses pre order sebenarnya cukup sederhana. Alurnya dapat disesuaikan dengan jenis bisnis dan metode pembayaran yang digunakan.
1. Penjual Menentukan Produk dan Periode Pre Order
Penjual terlebih dahulu menentukan produk yang akan ditawarkan, harga, jumlah pesanan yang dapat diterima, serta periode pemesanan. Informasi mengenai produk dibuat sejelas mungkin. Jika produk belum tersedia dalam bentuk jadi, jelaskan spesifikasi, pilihan varian, estimasi proses, dan perkiraan waktu pengiriman.
Periode pre order juga tidak harus selalu 14 hari. Lama pemesanan dapat berbeda-beda tergantung jenis produk, kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku, dan kebijakan setiap bisnis.
2. Pelanggan Melakukan Pemesanan
Pelanggan lalu melakukan pemesanan melalui toko online, marketplace, media sosial, chat, atau saluran penjualan lainnya. Pada tahap ini, penjual perlu mencatat informasi penting seperti nama produk, varian, jumlah, data pelanggan, harga, serta status pembayaran.
Semakin banyak pesanan yang masuk, pencatatan harus dilakukan secara terstruktur. Kesalahan satu angka saja menyebabkan jumlah produksi tidak sesuai dengan pesanan pelanggan.
3. Penjual Mencatat Pembayaran
Setelah pesanan masuk, pembayaran dicatat sesuai ketentuan. Misalnya, toko menetapkan pembayaran penuh di awal. Ada pula bisnis yang meminta uang muka terlebih dahulu dan pelunasan dilakukan sebelum barang dikirim.
Yang terpenting, status setiap pesanan harus mudah dibedakan: sudah bayar, membayar sebagian, atau belum bayar.
4. Produk Disiapkan Sesuai Pesanan
Setelah periode pre order berakhir atau jumlah pesanan sudah mencukupi, penjual mulai menyiapkan produk. Untuk produk yang dibuat sendiri, prosesnya dapat berupa produksi atau kustomisasi. Sementara, bisnis yang menjual barang dari supplier dapat melakukan pemesanan berdasarkan jumlah yang sudah terkumpul.
Pada tahap ini, data pesanan menjadi acuan agar jumlah barang yang diproduksi atau dibeli tidak terlalu banyak maupun terlalu sedikit.
5. Produk Dikirim kepada Pelanggan
Setelah produk selesai atau sudah tersedia, pesanan dikemas dan dikirim. Sebaiknya, penjual memberi informasi mengenai estimasi pengiriman sejak awal. Jika ada perubahan jadwal karena produksi atau kendala supplier, pelanggan juga perlu mendapat informasi terbaru. Dengan begitu, pelanggan memahami bahwa pre order memang membutuhkan waktu tunggu dan bukan transaksi ready stock.
Contoh Pre Order dalam Bisnis
Pre order dapat diterapkan pada berbagai jenis produk. Berikut beberapa contoh yang populer:
1. Pre Order Produk Fashion
Toko pakaian bisa membuka pemesanan untuk koleksi baru sebelum memproduksi dalam jumlah besar. Jumlah pesanan yang terkumpul kemudian menjadi salah satu dasar untuk menentukan jumlah produksi. Metode ini juga dapat diterapkan pada pakaian custom yang dibuat berdasarkan ukuran, warna, atau desain pilihan pelanggan.
2. Pre Order Makanan
Bisnis makanan juga dapat menggunakan pre order untuk produk yang membutuhkan persiapan khusus atau hanya dibuat berdasarkan jumlah pesanan. Contohnya, kue untuk acara tertentu, hampers, makanan beku, atau menu musiman. Penjual bisa tahu jumlah pesanan lebih dahulu sehingga bahan dan kapasitas produksi bisa disiapkan dengan lebih terukur.
3. Pre Order Produk Custom
Produk seperti merchandise, mug, kaos dengan desain khusus, atau barang dengan nama pelanggan dapat dibuat berdasarkan pesanan yang masuk. Sistem ini membantu penjual menghindari produksi terlalu banyak untuk barang yang hanya memiliki pasar tertentu.
4. Pre Order Barang Impor atau Koleksi
Barang yang harus didatangkan dari luar negeri atau produk koleksi dengan jumlah terbatas juga dapat dijual dengan sistem pre order. Dalam kondisi ini, estimasi waktu perlu dijelaskan lebih hati-hati karena proses pemenuhan dapat dipengaruhi oleh ketersediaan barang dan proses pengiriman.
Kelebihan Sistem Pre Order
Jika dikelola dengan baik, penjualan dengan sistem pre order dapat memberikan beberapa manfaat untuk bisnis, di antaranya:
1. Produksi Lebih Sesuai Permintaan
Penjual mendapat informasi jumlah pesanan sebelum produk dibuat atau disiapkan. Data tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar menentukan jumlah produksi. Cara ini mengurangi kemungkinan membuat produk jauh lebih banyak dari permintaan yang ada.
2. Stok Lebih Terkendali
Karena produk disiapkan berdasarkan pesanan, kebutuhan penyimpanan lebih mudah direncanakan. Hal ini berguna untuk bisnis yang menjual produk custom, musiman, atau barang dengan permintaan yang belum dapat dipastikan.
Namun, pre order bukan berarti bisnis bebas dari pengelolaan stok. Bahan baku, produk yang sudah selesai dibuat, maupun barang yang belum dikirim tetap perlu dicatat dengan baik.
Kalau pengelolaan inventaris mulai sulit dilakukan secara manual, kamu bisa membaca panduan tentang
aplikasi stok barang terbaik untuk UMKM untuk melihat kriteria sistem stok yang lebih terintegrasi.
3. Membantu Menguji Minat Pasar
Jumlah pesanan yang masuk menjadi salah satu indikator awal mengenai minat pelanggan terhadap produk. Misalnya, bisnis mempunyai dua desain baru dan membuka pre order untuk keduanya. Jumlah pesanan yang terkumpul dapat memberi gambaran desain mana yang lebih diminati. Data bisa menjadi bahan pertimbangan untuk produksi berikutnya.
4. Modal Produksi Dapat Lebih Terencana
Pada skema tertentu, penjual menerima pembayaran atau uang muka sebelum produk selesai dibuat. Dana yang masuk bisa dipakai untuk membiayai sebagian proses produksi. Namun, manfaat ini tetap bergantung pada skema pembayaran, biaya produksi, dan kemampuan bisnis memenuhi pesanan.
Karena itu, pembayaran di muka tidak otomatis berarti arus kas bisnis akan selalu lebih sehat. Penjual tetap perlu memperhitungkan biaya produksi, operasional, pengembalian dana, dan kewajiban lain.
5. Mengurangi Risiko Stok Tidak Terjual
Ketika jumlah produksi disesuaikan dengan pesanan yang masuk, risiko menghasilkan terlalu banyak barang dapat berkurang. Manfaat ini cukup relevan untuk produk dengan biaya produksi tinggi, bersifat musiman, atau memiliki permintaan yang sulit diprediksi.
Meski demikian, bisnis tetap perlu memperhitungkan kemungkinan pembatalan pesanan, produk cacat, perubahan permintaan, atau pesanan yang tidak terselesaikan.
Kekurangan Sistem Pre Order yang Perlu Dipertimbangkan
Pre order bukan berarti selalu lebih baik daripada ready stock. Sistem ini juga tidak lepas dari beberapa tantangan yang perlu dipersiapkan sejak awal:
1. Pelanggan Harus Menunggu
Berbeda dengan produk ready stock, pelanggan tidak langsung menerima produk setelah pembayaran. Oleh karena itu, estimasi waktu produksi dan pengiriman harus jelas. Waktu tunggu terlalu lama atau informasi yang tidak jelas dapat membuat pelanggan kecewa.
2. Risiko Keterlambatan Produksi
Proses produksi juga bisa mengalami kendala. Misalnya bahan baku terlambat, kapasitas produksi tidak mencukupi, atau terjadi masalah kualitas. Jika hal tersebut terjadi, penjual harus mempunyai prosedur komunikasi kepada pelanggan agar perubahan jadwal tidak menimbulkan kebingungan.
3. Pencatatan Pesanan Harus Akurat
Kesalahan pencatatan dapat menjadi masalah besar dalam sistem pre order. Contohnya, pelanggan memesan tiga produk tetapi hanya tercatat dua. Jika kesalahan baru diketahui ketika produksi selesai, penjual harus melakukan produksi tambahan atau menghadapi risiko pesanan tidak terpenuhi. Karena itu, pencatatan transaksi dan pesanan sebaiknya dilakukan dalam sistem yang mudah dipantau.
4. Pengelolaan Pembayaran Perlu Lebih Teliti
Jika bisnis menerapkan skema uang muka atau pembayaran bertahap, status pembayaran setiap pesanan harus tercatat dengan jelas. Hal ini membantu penjual tahu pesanan mana yang sudah dapat diproses dan mana yang masih menunggu pembayaran.
Pre Order vs Ready Stock, Apa Bedanya?
Supaya lebih memahami konsep apa itu pre order, pahami pula perbedaannya dengan ready stock. Ini poin yang menjadi pembedanya:
- Ketersediaan barang. Pada pre order, barang belum tersedia. Sementara pada ready stock, barang yang dibeli sudah ada.
- Waktu pengiriman. Barang pre order akan dikirim jika produk sudah siap. Untuk barang ready stock, pengiriman akan lebih cepat karena produk sudah ada.
- Produksi. Produk pre order dibuat sesuai jumlah pesanan, sedangkan barang ready stock sudah disiapkan lebih dahulu.
- Risiko stok berlebih cenderung lebih rendah untuk pre order karena barang dibuat sesuai pesanan. Barang ready stock lebih berisiko mengalami stok berlebih, terutama jika sulit terjual.
Tips Menjalankan Pre Order agar Lebih Teratur
Agar sistem ini tidak justru membuat operasional semakin rumit, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan:
- Tentukan periode pemesanan. Tentukan kapan pre order dibuka dan ditutup. Jangan membuat pelanggan menebak kapan pesanan mereka akan diproses.
- Berikan estimasi waktu realistis. Hindari menjanjikan waktu yang terlalu singkat hanya untuk membuat produk terlihat menarik.
- Catat setiap pesanan. Data minimal yang perlu dicatat antara lain produk, varian, jumlah, harga, data pelanggan, pembayaran, dan status pemenuhan pesanan.
- Pisahkan status pesanan. Gunakan status yang mudah dipahami, misalnya pesanan baru, sudah dibayar, sedang diproses, siap dikirim, dan selesai.
- Pantau stok dan bahan baku. Walaupun produk dijual dengan sistem pre order, bahan baku dan barang yang sudah selesai tetap perlu dipantau. Pencatatan stok teratur bantu bisnis mengetahui barang tersedia, barang masuk, dan kebutuhan produksi berikut. Baca cara mencatat stok barang dengan benar jika kamu masih menggunakan pencatatan manual.
- Jelaskan kebijakan pembayaran dan pembatalan. Sebelum pelanggan melakukan pembayaran, jelaskan ketentuan yang berlaku. Termasuk jumlah uang muka jika ada, waktu pelunasan, estimasi pengiriman, serta ketentuan pembatalan atau pengembalian dana.
Kelola Pesanan dan Stok Pre Order Lebih Rapi
Pre order membantu bisnis menyesuaikan produksi dengan jumlah permintaan, tetapi manfaatnya baru terasa jika pesanan, pembayaran, stok, dan penjualan tercatat dengan baik. Ketika jumlah transaksi mulai bertambah, pencatatan manual membuat data lebih sulit dipantau.
Supaya operasional bisnis lebih efisien, kamu bisa pakai
Folio POS, sistem kasir dengan fitur manajemen stok dan pencatatan penjualan untuk berbagai jenis bisnis. Pengelolaan stok terintegrasi memungkinkan perubahan stok tercatat mengikuti transaksi, sehingga kamu tidak perlu memisahkan pencatatan penjualan dan persediaan ke sistem berbeda.
Kalau kamu ingin mengurangi pekerjaan pencatatan manual dan membuat operasional bisnis lebih teratur,
coba Folio POS gratis dan lihat fitur yang sesuai dengan kebutuhan bisnismu. Jika punya pertanyaan atau ingin diskusi lebih lanjut, jangan ragu untuk
chat tim support Folio!
FAQ
1. Apa arti pre order?
Pre order artinya sistem pemesanan barang sebelum produk tersedia atau selesai dibuat. Pelanggan melakukan pemesanan lebih dulu, lalu penjual menyiapkan dan mengirimkan produk sesuai estimasi yang telah ditentukan.
2. Berapa lama pre order biasanya berlangsung?
Periode dapat disesuaikan dengan jenis produk, kapasitas produksi, ketersediaan bahan, dan estimasi pengiriman.
3. Apakah pre order harus dibayar di muka?
Tidak selalu. Pembayaran bisa dilakukan penuh, dengan uang muka, atau mekanisme lain yang disepakati. Yang penting, ketentuan pembayaran harus dijelaskan sebelum pelanggan melakukan pemesanan.
4. Apa perbedaan pre order dan ready stock?
Pre order adalah sistem ketika pelanggan memesan sebelum produk tersedia atau selesai dibuat, sedangkan ready stock berarti barang sudah tersedia ketika pelanggan melakukan pembelian.
5. Apa contoh produk yang cocok dijual dengan sistem pre order?
Produk musiman, pakaian dengan desain tertentu, makanan, merchandise, furnitur custom, serta barang yang perlu didatangkan dari supplier adalah contoh produk yang dapat menggunakan sistem pre order.