Cara menghitung biaya bahan baku salon dan spa dilakukan dengan membagi harga beli produk berdasarkan isi kemasan, lalu mengalikan biaya per satuan dengan takaran yang digunakan dalam setiap treatment. Misalnya, cream spa seharga Rp80.000 per 250 gram membutuhkan biaya Rp9.600 jika digunakan sebanyak 30 gram. Jumlahkan biaya seluruh bahan untuk mengetahui biaya bahan baku per treatment, kemudian pantau pemakaian aktual agar stok dan biaya tetap terkendali.
Salon yang ramai belum tentu punya pengelolaan biaya yang baik. Saat pelanggan datang silih berganti, produk perawatan terus digunakan, stok berkurang, dan pengeluaran bahan baku bisa meningkat tanpa disadari.
Masalahnya, harga beli satu kemasan produk tidak serta-merta menunjukkan berapa biaya yang sebenarnya dikeluarkan untuk satu layanan. Kamu perlu tahu jumlah produk yang dipakai dalam setiap treatment agar dapat menghitung biaya dengan lebih akurat.
Dengan begitu, kamu bisa mengevaluasi pemakaian bahan, mengantisipasi pemborosan, dan menyiapkan perhitungan harga layanan berdasarkan biaya yang lebih realistis. Lalu, bagaimana cara menghitungnya? Ini penjelasan lengkapnya.
Cara Menghitung Biaya Bahan Baku Salon dan Spa
Biaya bahan baku per treatment adalah total biaya produk sekaligus perlengkapan yang digunakan untuk menyelesaikan satu sesi layanan. Perhitungannya dimulai dari harga beli, isi kemasan, dan takaran pemakaian setiap bahan. Ada dua rumus dasar yang bisa kamu gunakan:
- Menghitung biaya per satuan bahan = Harga beli produk ÷ Jumlah isi kemasan
- Menghitung biaya bahan per treatment = Biaya per satuan × Takaran pemakaian
Jika treatment menggunakan beberapa produk, hitung biaya setiap bahan lebih dulu, lalu jumlahkan hasilnya.
Misalnya, satu sesi hair spa memerlukan cream spa, serum rambut, dan perlengkapan sekali pakai. Tentunya, kamu perlu tahu harga dan jumlah pemakaian setiap produk agar tidak hanya mengandalkan perkiraan.
Contoh Perhitungan Biaya Bahan Baku per Treatment
Agar lebih mudah dipahami, coba perhatikan simulasi hair spa dengan dua produk utama. Angka yang muncul hanya gambaran, harga sebenarnya bergantung pada merek, ukuran kemasan, dan pemasok yang digunakan.
1. Hitung biaya cream spa
Misalnya, salon membeli cream spa seharga Rp80.000 dengan isi 250 gram. Dalam satu sesi hair spa, terapis menggunakan 30 gram.
Perhitungannya:
- Harga per gram = Rp80.000 ÷ 250 = Rp320.
- Biaya cream per treatment = Rp320 × 30 gram = Rp9.600.
Artinya, setiap sesi hair spa menggunakan cream spa senilai Rp9.600.
2. Hitung biaya serum rambut
Selanjutnya, salon menggunakan serum rambut seharga Rp120.000 untuk kemasan 100 ml. Takaran pemakaian dalam satu sesi adalah 5 ml.
Perhitungannya:
- Harga per ml = Rp120.000 ÷ 100 = Rp1.200.
- Biaya serum per treatment = Rp1.200 × 5 ml = Rp6.000.
3. Jumlahkan biaya bahan yang digunakan
Dari dua perhitungan tersebut, biaya bahan baku per treatment adalah:
- Cream spa: Rp9.600
- Serum rambut: Rp6.000
Total: Rp15.600
Misalnya, asumsikan harga layanan hair spa di salon adalah Rp150.000. Maka, biaya kedua bahan tersebut setara dengan 10,4% dari harga layanan.
Namun perhatikan, angka Rp134.400 yang tersisa setelah dikurangi kedua bahan tersebut bukan otomatis keuntungan bersih. Perhitungan itu belum memasukkan biaya bahan lain, tenaga kerja atau komisi terapis, sewa, listrik, dan pengeluaran operasional lainnya.
Inilah alasannya, perhitungan bahan baku sebaiknya jadi salah satu bagian dari evaluasi biaya layanan. Untuk menentukan harga jual lebih menyeluruh, kamu perlu menghitung komponen biaya yang lain. Baca di artikel
cara menentukan harga layanan salon dan spa untuk memahami perhitungan tersebut.
Kenapa Biaya Bahan Baku Aktual Bisa Membengkak?
Perhitungan di atas menggunakan takaran standar. Dalam operasional sehari-hari, jumlah produk yang digunakan belum tentu selalu sama. Ada beberapa hal yang bisa membuat biaya aktual lebih tinggi daripada perkiraan.
- Takaran bahan fluktuatif. Terapis berbeda bisa saja memakai takaran produk berbeda untuk layanan serupa. Jika standar pemakaian belum ditentukan, biaya bahan per treatment bisa berubah meski jenis layanan dan harga jualnya tetap.
- Harga beli produk berubah. Jika masih memakai harga lama dalam perhitungan, biaya bahan yang tercatat tidak lagi mencerminkan biaya pembelian terbaru.
- Bahan terbuang atau tidak tercatat. Produk yang tumpah, rusak, kedaluwarsa, atau dipakai untuk kebutuhan lain juga memengaruhi stok. Jika pemakaian tidak dicatat, jumlah stok aktual bisa berbeda dari catatan.
Selain tiga aspek tersebut, biaya bahan baku membengkak juga terjadi karena tidak ada pembanding antara pemakaian standar dan sebenarnya. Hal ini membuat kamu kesulitan mengetahui penyebabnya jika ada selisih.
Contohnya begini. Standar penggunaan cream spa adalah 30 gram dengan biaya Rp320 per gram. Apabila pemakaian aktual menjadi 35 gram, biayanya meningkat dari Rp9.600 menjadi Rp11.200. Selisihnya Rp1.600 per treatment.
Jika selisih serupa terjadi pada 100 treatment, tambahan biaya cream bisa mencapai Rp160.000. Ini bukan berarti seluruh selisih pasti pemborosan, tetapi perbedaan tersebut perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.
Cara Memantau Pemakaian Bahan dan Selisih Stok
Setelah mengetahui biaya standar per treatment, langkah selanjutnya adalah memantau pemakaian bahan dalam operasional. Seperti ini caranya:
1. Tetapkan standar pemakaian setiap layanan
Catat produk yang diperlukan untuk setiap treatment beserta takaran yang digunakan. Misalnya, hair spa perlu 30 gram cream dan 5 ml serum, sedangkan facial menggunakan kombinasi produk yang berbeda.
Standar ini menjadi acuan perhitungan biaya dan membantu terapis menggunakan bahan secara konsisten. Takaran perlu disesuaikan dengan prosedur layanan dan kebutuhan pelanggan.
2. Catat stok masuk dan pemakaian
Setiap pembelian produk perlu menambah catatan stok, sedangkan bahan yang dipakai, rusak, atau dibuang perlu dicatat sesuai kategori. Catatan tersebut membantu kamu memperkirakan jumlah stok tersisa. Untuk bahan yang digunakan bersama di beberapa layanan, pastikan pemakaiannya dialokasikan secara konsisten.
3. Bandingkan stok teoritis dengan stok aktual
Stok teoritis adalah perkiraan jumlah barang berdasarkan stok awal, barang masuk, dan pemakaian tercatat. Sementara itu, stok aktual adalah jumlah yang benar-benar tersedia ketika diperiksa. Jika kedua angkanya berbeda, periksa kemungkinan salah catat, produk rusak, penggunaan yang belum dicatat, atau kesalahan saat menghitung stok.
4. Evaluasi biaya bahan secara berkala
Tinjau kembali harga beli dan pemakaian bahan secara berkala, terutama ketika harga dari supplier berubah atau jumlah treatment meningkat. Dengan cara ini, kamu bisa memperbarui perhitungan biaya sesuai kondisi operasional, bukan hanya data lama.
Mau Hitung Biaya Bahan Baku Lebih Mudah?
Pencatatan manual tentu cukup untuk layanan salon dan spa yang masih sederhana. Tapi, semakin banyak jenis treatment dan produk yang dipakai, akan semakin banyak pula data yang harus kamu periksa.
Untuk memudahkan pencatatan, kamu bisa pakai aplikasi kasir dengan fitur pengelolaan inventory bahan baku seperti
Folio POS. Cukup masukkan pemakaian produk dan harga, sistem akan menghitung secara otomatis, dan pasti akurat.
Ingin tahu apa saja fitur lain Folio POS untuk
solusi bisnis salon dan spa? Kamu bisa
coba gratis Folio 14 hari, atau
download aplikasinya di Android.
Masih ragu fitur mana yang sesuai dengan operasional bisnis salon dan spa yang kamu kelola? Jangan ragu untuk
chat tim support Folio dan diskusikan kebutuhan bisnismu!
FAQ
1. Bagaimana cara menghitung biaya bahan baku satu treatment?
Bagi harga beli produk dengan jumlah isi kemasan untuk mendapat biaya per satuan. Lalu, kalikan hasilnya dengan takaran yang dipakai, dan jumlahkan biaya seluruh bahan dalam satu treatment.
2. Apakah biaya bahan baku sama dengan biaya layanan?
Tidak. Biaya bahan baku hanya mencakup produk dan perlengkapan yang digunakan. Perhitungan biaya layanan secara menyeluruh juga perlu mempertimbangkan tenaga kerja, komisi terapis, serta alokasi biaya operasional yang relevan.
3. Bagaimana cara mengetahui apakah pemakaian bahan terlalu tinggi?
Bandingkan takaran standar dengan pemakaian aktual dan periksa selisih stok. Pastikan juga harga beli terbaru dan semua pemakaian bahan dicatat sebelum menyimpulkan adanya pemborosan.
4. Seberapa sering biaya bahan baku perlu diperbarui?
Perbarui perhitungan ketika harga beli berubah, takaran layanan disesuaikan, atau ada perubahan pada produk yang digunakan.
5. Bisakah biaya bahan baku dihitung menggunakan aplikasi kasir?
Bisa menggunakan aplikasi yang mendukung pengelolaan bahan baku sesuai kebutuhan bisnis, salah satunya adalah Folio POS.